laman

Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Desember 2011

Arti warna kesukaanmu


Dalam feng shui, warna adalah getaran. Getaran itu selalu kita respon, secara sadar maupun tidak. Warna memengaruhi kenyamanan lingkungan dan mood. Warna yang kita kenakan sehari-hari memengaruhi pandangan orang lain terhadap kita. Berikut ini sejumlah karakter warna menurut feng shui:
Merah
Sifat merah memberi stimulasi dan dominan. Erat kaitannya dengan sifat hangat serta kemakmuran, tetapi juga menggambarkan kemarahan, malu dan kebencian. Untuk ruangan, merah mengurangi ukuran, tetapi memperbesar ukuran objek. Warna ini bagus sebagai aksen.
Tak cocok: ruang makan, kamar tidur anak-anak, dapur, dan ruang kerja.
Kuning
Erat dengan pencerahan dan intelektualitas. Sifatnya menstimulasi otak dan membantu pencernaan. Sifat positifnya adalah optimisme, akal, dan ketegasan. Sifat negatifnya, berlebihan dan kekakuan.
Cocok: pintu masuk rumah dan dapur.
Tak cocok: ruang meditasi dan kamar mandi.
Hijau
Simbol pertumbuhan, kesuburan, dan harmoni. Hijau adalah warna menenangkan dan menyegarkan. Sifat positifnya, optimisme, kebebasan, dan keseimbangan. Sifat negatifnya, iri hati dan kebohongan.
Cocok: ruang terapi dan kamar mandi.
Tak cocok: ruang keluarga, ruang bermain, dan ruang belajar.
Biru
Damai dan menyejukkan. Biru juga terkait dengan spiritualitas, kontemplasi, misteri, dan kesabaran. Asosiasi positifnya, rasa percaya dan stabilitas. Sifat negatifnya, curiga dan melankolis. Biru memberi kesan luas pada ruangan.
Cocok: ruang meditasi, ruang tidur, dan ruang terapi.
Tak cocok: ruang keluarga, ruang makan, dan ruang kerja.
Putih
Simbol awal baru, kemurnian dan kesucian. Kualitas positifnya, bersih dan segar. Sifat negatifnya, dingin dan tanpa kehidupan.
Cocok: kamar mandi dan dapur.
Tak cocok: kamar anak-anak dan ruang makan.
Hitam
Misterius dan independen adalah sifat hitam. Positifnya, daya tarik dan kekuatan. Sifat negatinya, kematian, kegelapan, dan kuasa jahat.
Cocok: kamar remaja dan kamar tidur.
Tak cocok: kamar kerja, kamar anak-anak, dan ruang keluarga.
Cokelat
Warna cokelat menggambarkan stabilitas dan bobot. Sifat positifnya kestabilan dan keanggunan, sedangkan sifat negatifnya depresi dan penuaan.
Cocok: kamar kerja
Tak cocok: kamar tidur.

Pengolahan jernang dengan cara perebusan


Cara perebusan merupakan cara alternatif yang dapat dikerjakan oleh masyarakat. Perebusan merupakan salah satu cara yang tepat guna, dimana tidak memerlukan teknologi yang tinggi. Perebusan yang dilakukan bertujuan untuk mencairkan resin yang terdapat didalam buah jernang. Cara perebusan dilakukan dengan menggunakan seluruh bagian buah kecuali biji. Kelebihan cara perebusan adalah resin yang dihasilkan tanpa kulit. Selama perebusan dilakukan, resin yang naik dikumpulkan dalam wadah/cawan petri. Jernang tersebut akan mengering dan menggumpal. Gumpalan tersebut dihaluskan sampai menjadi serbuk halus yang akan digunakan dalam analisis sifat fisiko dan kimia.   

Pengolahan jernang cara Masyarakat


a.    Kadar resin
Kadar resin (%) = W2-W1/W x 100 ; keterangan:   
W adalah berat serbuk jernang (g)
W1 adalah berat labu pemisah (g)
W2 adalah berat labu pemisah dan resin (g)
b.    Kadar air
Kadar air (%) = W1-W2/W2 x 100   ;  keterangan:   
W1 adalah berat jernang (g)                 
W2 adalah berat jernang setelah di oven (g)         
c.    Kadar kotoran
Kadar kotoran (%) = W1-W2/W x 100; keterangan:
W adalah berat jernang (g)
W1 adalah kertas saring dan kotoran (g)     
W2 adalah kertas saring (g)           

d.    Kadar abu
Kadar abu (%) = d-c/b-a x 100 ;   keterangan:   
a adalah berat cawan porselen awal (g)
b adalah berat jernang + cawan porselen awal (g)
c adalah berat cawan porselen akhir tanpa abu (g)
d adalah berat cawan porselen berisi abu (g)
e.    Titik leleh
Titik leleh diukur dengan menggunakan melting point. Jernang yang dibuat serbuk halus dicairkan pada suhu awal 40°C, mengamati terus sampai jernang meleleh seluruhnya dan mencatat suhunya.
f.     Warna
Warna ditentukan dengan pengamatan secara visual setelah sejumlah contoh jernang dilarutkan dengan etanol dan dituangkan ke atas kertas putih.
Tabel 1 Spesifikasi persyaratan mutu jernang
No
Jenis uji
Satuan
Persyaratan
Mutu super
Mutu A
Mutu B
1
Kadar resin (b/b)
%
Min. 80
Min.60
Min.25
2
Kadar air (b/b)
%
Maks.6
Maks.8
Maks.10
3
Kadar kotoran (b/b)
%
Maks.14
Maks.39
Maks.50
4
Kadar abu (b/b)
%
Maks.4
Maks.8
Maks.20
5
Titik leleh
°C
Min.80
Min.80
-
6
Warna
-
Merah tua
Merah muda
Merah pudar
Sumber : SNI

Analisis sifat fisik dan kimia jernang


a.    Kadar resin
Kadar resin (%) = W2-W1/W x 100 ; keterangan:   
W adalah berat serbuk jernang (g)
W1 adalah berat labu pemisah (g)
W2 adalah berat labu pemisah dan resin (g)
b.    Kadar air
Kadar air (%) = W1-W2/W2 x 100   ;  keterangan:   
W1 adalah berat jernang (g)                 
W2 adalah berat jernang setelah di oven (g)         
c.    Kadar kotoran
Kadar kotoran (%) = W1-W2/W x 100; keterangan:
W adalah berat jernang (g)
W1 adalah kertas saring dan kotoran (g)     
W2 adalah kertas saring (g)           

d.    Kadar abu
Kadar abu (%) = d-c/b-a x 100 ;   keterangan:   
a adalah berat cawan porselen awal (g)
b adalah berat jernang + cawan porselen awal (g)
c adalah berat cawan porselen akhir tanpa abu (g)
d adalah berat cawan porselen berisi abu (g)
e.    Titik leleh
Titik leleh diukur dengan menggunakan melting point. Jernang yang dibuat serbuk halus dicairkan pada suhu awal 40°C, mengamati terus sampai jernang meleleh seluruhnya dan mencatat suhunya.
f.     Warna
Warna ditentukan dengan pengamatan secara visual setelah sejumlah contoh jernang dilarutkan dengan etanol dan dituangkan ke atas kertas putih.
Tabel 1 Spesifikasi persyaratan mutu jernang
No
Jenis uji
Satuan
Persyaratan
Mutu super
Mutu A
Mutu B
1
Kadar resin (b/b)
%
Min. 80
Min.60
Min.25
2
Kadar air (b/b)
%
Maks.6
Maks.8
Maks.10
3
Kadar kotoran (b/b)
%
Maks.14
Maks.39
Maks.50
4
Kadar abu (b/b)
%
Maks.4
Maks.8
Maks.20
5
Titik leleh
°C
Min.80
Min.80
-
6
Warna
-
Merah tua
Merah muda
Merah pudar
Sumber : SNI

Sekilas tentang Buah Jernang

banyak orang yg tidak mengetahui bentuk buah jernang itu sendiri..seperti ini buahnya..dan getahnya yang sudah kering.



Getah Jernang merupakan hasil hutan bukan kayu sejenis rotan yang diambil dari kulit buah jernang untuk keperluan tertentu. Buahnya seperti buah rotan, bulat kecil-kecil berkumpul seoerti buah salak. Jernang merupakan tumbuhan merambat pada pepohonan di sekitarnya. Di dalam getah jernang mengandung senyawa dracoresen (11%), draco resinolanol (56 %), draco alban (2,5 %) sisanya asam benzoate dan asam bensolaktat. Getah jernang biasa digunakan sebagai campuran obat diare, disentri dan pembeku darah akibat luka, sebagai bahan baku pewarna porselen, pewarna marmer, bahan penyamakan kulit, bahan baku lipstick dan lain-lain. Hal ini sangat diperlukan oleh nagara Cina, Thailand, Singapura, Hongkong dimana mereka memerlukan getah jernang lebih dari 400 ton pertahun. Indonesia saat ini dapat mengeksport getah jernang hanya 27 ton pertahun itupun sebagian hasil pencarian buah jernang dari dalam hutan. Penyebaran jernang di Indonesia berada pada hutan pulau sumatera (jambi, pedalaman riau) dan Kalimantann (Pontianak). Bahkan disinyalir jernang hanya terdapat pada tiga Negara di dunia yaitu India, Malaysia dan Indonesia, sehingga getah jernang menjadi sangat mahal harganya. Dari 100 kg buah jernang didapat 3, 5 kg getah jernang dengan harga per kg saat ini mencapai 1, 2 juta rupiah. Jenis yang paling mahal harganya adalah jenang jenis dragon’s blood. Saat ini jika ingin membudidayakan jernang dapat diambil dari anakan jernang dalam hutan atau langsung dari biji jernang. Karena jernang merupakan tumbuhan merambat maka perlu pohon pelindung sebagai tempat merambatnya jernang. Hal ini sangat menguntungkan petani jika jenis pohon pelindung itu juga menghasilkan seperti pohon karet. Selain dapat hasil dari penyadapan getah pohon karet, petani juga dapat menjual getah jernang sehingga menambah pendapatan para petani. Saat ini jernang baru dibudidayakan di daerah propinsi Jambi, sehingga hasil jernang di Indonesia dari budidaya masih sangat kecil. Artinya, ini merupakan peluang untuk investasi. Sebagai gambaran saat ini dari 1 ha tanaman jernang dapat menghasilkan 35 hingga 38 juta pertahun. Hal ini menjadi peluang tambahan bagi petani yang ingin membudi dayakannya. Di Kabupaten Hulu Sungai Tengah sendiri tepatnya di desa Hinas Kiri budidaya jernang masih tahap uji coba. Kedepannya diharapkan melalui penyuluhan budidaya jernang dapat meluas ke daerah – daerah lain.